Wagub Buka Unsyiah Fair ke 12

0
22

Banda Aceh – Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah membuka Unsyiah Fair ke 12 di gedung AAC Dayan Dawood, Unsyiah, Banda Aceh, Minggu 5 November 2017 malam. Wagub yang dating bersama istri, Dyah ErtiIdawati langsung disambut Rektor Unsyiah, Prof Dr Samsul Rizal MEng.

Dalam sambutannya Wagub mengatakan, Unsyiah Fair ke-12 adalah sebuah kegiatan yang dimotori Badan Eksekutif Mahasiswa Unsyiah dalam rangka mendekatkan Unsyiah — sebagai salah satu jantung pendidikan Aceh – kepada masyarakat.

“Mudah-mudahan melalui kegiatan ini, masyarakat semakin mengenal karya dan kualitas Unsyiah, dan terus mendorong kampus ini sebagai lembaga pendidikan kebanggaan Aceh,” ujar Nova.

Nova menjelaskan, Perguruan Tinggi memiliki tiga fungsi utama, yaitu: sebagai pusat pendidikan; sebagai lembaga penelitian, dan sebagai lembaga pengabdian. Ketiga fungsi tersebut ada kalanya berjalan sendiri-sendiri, ada kalanya saling berkaitan.

“Saya katakan berkaitan, sebab di satu sisi kegiatan itu mengandung nilai pendidikan, tapi di sisi lain bisa pula sebagai bentuk pengabdian,” kata Wagub.

Menurut Wagub, Unsyiah Fair bisa dikategorikan pendidikan karena member pencerahan kepada publik tentang aktivitas yang dilakukan Unsyiah di Aceh. Di pihak lain, lanjut Wagub, kegiatan ini juga sebagai arena pengabdian, karena pada event ini, civitas akademika Unsyiah dapat melakukan interaksi dengan public dengan menonjolkan visi keilmuan yang dimilikinya.

“Yang lebih menarik, kegiatan ini tidak hanya melibatkan mahasiswa, tapi juga masyarakat. Inilah mengapa saya sebut Unsyiah Fair menyentuh tiga unsur Tri Dharma perguruan tinggi,” lanjut Wagub.

Dari event tersebut, Wagub berharap, public akan lebih dekat dengan Unsyiah dan turut bangga dengan prestasi yang dicapai kampus ini.

Wagub juga mengatakan, fenomena global selama ini seakan membuat dunia tanpa batas.

“Terkadang sebuah kreasi sederhana bisa memunculkan dampak luar biasa bagi dunia. Kita bias melihat misalnya betapa besarnya pengaruh ‘Facebook’ bagi masyarakat dunia saat ini,” katanya.

Pengalaman itu, kata Wagub, menunjukkan kalau sebuah karya terkadang tidak hanya berbicara pada tataran harga, tapi ada nilai-nilai kreativitas di dalamnya. Kalaupun karya itu bagus dan dijual dengan murah, tapi jika produknya monoton, ia tidak akan menarik bagi masyarakat.

Tapi jika karya itu unik, kreatif, baru, meski harga nyama hal, niscaya ia pasti dilirik banyak orang.

“Ketika masyarakat global melihat karya itu sebagai sebuah inovasi yang cerdas, maka ia akan bias menjadi sumber pun di-pundi keuangan bagi penemunya. Peluang menghasilkan karya-karya kreatif ini terkadang tidak hanya dari proses pendidikan yang ketat. Iater kadang muncul dari ide-ide ‘unik’ dan aneh. Ide-ide ini hanya lahir dari kreativitas seorang innovator yang memiliki visi jauh kedepan.”

Untuk itu, Wagub mengatakan, ada tiga kunci yang menjadi dasarnya, yaitu, belajar dengan keras, memahami pengetahuan dengan baik, serta bias membaca fenomena yang ada di masyarakat.

“Kegiatan Unsyiah Fair ini diharapkan bias menjadi salah satu cara bagi mahasiswa untuk dapat membaca fenomena yang berkembang di masyarakat. Karena itu, melalui Unsyiah Fair ini, interaksi dunia kampus dan dunia luar akan dibuka lebar untuk berbagi karya, bertukar ide, sharing pengalaman,” ujar Wagub.

Untuk itu, Wagub mengatakan, Unsyiah fair tahun ini sangat tepat mengusung tema “Transformasi Indonesia menunju 2030.” [sa/rel]

LEAVE A REPLY