Ulos Itu Berjiwa, Bukan Fashion

0
301

Laporan : Tigor Munthe

Bagi seorang Torang Sitorus, Ulos sebagai warisan budaya leluhur harus dikembalikan kepada pakemnya, yakni Ulos yang berjiwa. Ulos yang ditenun dengan hati dan dikerjakan para penenun dengan baik.

“Ulos jenis ini digunakan dalam upacara adat, mulai kelahiran sampai kematian,” kata Torang, seorang pegiat Ulos kepada SIANTAR 24 JAM pada Senin (17/10) sore sekitar jam 15.00 WIB.

Torang yang didaulat menjadi narasumber dalam seminar Ulos menuju pentas dunia pada peringatan Hari Ulos 2016 di Hotel Danau Toba, Senin (17/10) bersama pegiat budaya Batak, Wilmar Simanjorang dan akademisi Prof Robert Sibarani, menegaskan, saat ini banyak kain bermotif Ulos beredar di tengah masyarakat, termasuk diproduksi di Kota Siantar dan Balige, Kabupaten Tobasa.

Menurut Torang, kain bermotif Ulos itu sebaiknya diperuntukkan atau dialihkan ke industri fashion, home decor dan lain sebagainya. “Seperti kain yang dibuat teman-teman penenun di Siantar dan Balige. Jadi kain yang dibuat dengan alat semi mesin, baiknya digunakan bukan untuk adat. Yang itu bukan Ulos. Sebab Ulos itu kain yang berjiwa,” tegasnya.

Sedangkan budayawan yang juga pegiat Opera Batak, Thompson Hs dihubungi melalui media whatsapp, Senin (17/10) siang sekira jam 11.30 WIB, mengatakan peringatan Hari Ulos yang jatuh pada setiap 17 Oktober patut didukung.

Apalagi dalam peringatan tahun kedua yang digelar di Hotel Danau Toba, Medan mengusung isu besar pengajuan Ulos ke badan PBB Unesco pada 2019 sebagai warisan tak benda atau intangible.

“Kalau intangible-nya mau diajukan memang semua pengetahuan terkait tenun tradisional Batak itu menjadi penting, tanpa batasan istilah yang digunakan. Karena semua Batak terkait dalam pemanfaatan dan fungsinya dalam adat serta ekspresi komunalnya. Jadi yang diusulkan ke Unesco bukan fisik Ulosnya, tetapi pengetahuan terkait dengan ulos dari bahan, proses pembuatan, dan fungsinya masing-masing,” terang Thompson.

Menurut dia, Ulos secara fisik sudah masuk ke wilayah ekonomi melalui fashion show, pemberian cenderamata, dan dunia entertainment. Aturan-aturan Ulos secara ekonomis juga sudah muncul dengan adanya Ulos dari mesin dan setengah alat tenun. Ulos tenunan asli harus menerima dampak eksklusif, meskipun secara ekonomis harus siap bersaing dengan ulos non tenun asli.

“Secara budaya, Hari Ulos dapat menjadi awal apresiasi dan pengenalan generasi muda terhadap Ulos. Cara-cara pemakaian Ulos dan fungsinya secara tradisi dapat diperhatikan sesungguhnya kalau nilai intangiblenya diusung ke Unesco,” paparnya.

Disinggung adanya resistensi sub etnis seperti Simalungun ikut dalam peringatan Hari Ulos 2016, menurut Thompson, harus dilihat secara gerakan dan substansi bahwa setiap sub etnis Batak memiliki istilah lain seperti Hiou dari Simalungun, Uis dari Karo dan Oles dari Pakpak.

“Pakaian tradisional itu, Hiou, Uis dan Oles juga diperkenalkan dalam acara Hari Ulos, terutama melalui pameran dan fashion show,” katanya seraya menyebut istilah Ulos biasa digunakan Batak Toba, Angkoka, dan Mandailing.

Thompson mengingatkan, istilah Ulos atau tidak, akan dikenalkan ke dunia kalau Unesco menerimanya suatu saat. “Jadi tidak perlu diperdebatkan istilahnya, meskipun istilah Ulos telah dominan digunakan Toba, Angkola, Mandailing,” katanya.

Pegiat teater dari Rumah Karya Indonesa, Jhon Fawer Siahaan menyebut, perayaan Hari Ulos yang dilakukan di Medan adalah sebagai bentuk perjuangan agar Ulos terdaftar sebagai kekayaan budaya Batak di Unesco.

Hanya saja kata dia, persoalan tanggal ini sebagai Hari Ulos, belum menemukan apa memang tanggal 17 Oktober sebagai Hari Ulos karena masih hal yang baru dan belum paham apa landasan dari tanggal tersebut, apakah hanya merujuk kegaiatan yang dilakukan lantas itu dijadikan sebagai landasan Hari Ulos.

Namun di sisi lain dia amat menyayangkan jika Hari Ulos tidak dilakukan di Bona Pasogit. Semestinya kegiatan ini dilakukan memiliki dampak bagi masyarakat sekitar. “Namun meskipun demikian patut kita mengapresiasi perjuangan ini, semoga dengan dengan munculnya Hari Ulos, Ulos akan semakin diminati banyak orang, tentunya akan berdampak secara terhadap para pengrajin Ulos,” katanya.

Seniman asal Simalungun, Sultan Saragih, membuka ucapan Hari Ulos dengan peribahasa,”Lebih besar upah marombou (uang harian di ladang orang) daripada menghidupi sehari hari sebagai partonun”.

Sultan sebut, 17 Oktober 2016 dicanangkan sebagai Hari Ulos se-Dunia, kini telah memasuki tahun kedua setelah deklarasi tersebut mendapat pengesahan dari Menteri Pendidikan dan Kebudaayan Muhammad Nuh pada 17 Oktober 2014 lalu.

Hanya saja kata Sultan, penyelenggaraan Hari Ulos kali ini sebagai gerakan kebudayaan untuk melestarikan tenun tradisi tersebut belum banyak mendapat respons dari pelaku dan pegiat budaya serta apresiasi masyarakat luas agar menjadi agenda bersama.

“Selayaknya, bila setiap kota yang memiliki tenun tradisi menyambut event serupa agar daya ingat dan identitas kultural bisa bertahan,” kata dia.

Kota Siantar yang menjadi gerbang masuk wisata Danau Toba, sambungnya, masih memiliki sejumlah sentra partonun tradisi, menggunakan perangkat kayu manual atau alat tenun bukan mesin (ATBM), sedangkan di Simalungun masih terdapat beberapa partonun asli tradisi yang masih setia dengan corak lama.

“Filosofi dan khasanah pengetahuan Ulos itu sendiri bergeser menjadi rekaan industri pasar. Hal ini lah yang menjadi nilai terpenting, Hari Ulos se-Dunia, bagaimana menyelamatkan partonun tradisi yang sehari-hari bergelut dengan kekayaan warisan leluhur, dimana hasil karya tangan seni atau handmade pada dasarnya setara dengan waktu pengerjaan memiliki harga lebih mahal,” urainya.

Dia kemudian meminta agenda Hari Ulos se-Dunia sebaiknya tidak diklaim hanya milik Toba, tapi bisa menjadi agenda kesadaran dan keprihatinan bersama atas nasib tenun tradisi, baik dari etnis Simalungun yang memiliki hiou maupun Karo dengan ragam uis, serta Pakpak dan Mandailing.

“Jika apresiasi masyarakat meningkat, bukan tidak mungkin mereka memilih hasil buatan partonun tradisi walaupun hargnya jauh lebih mahal,” tandas pengelola Sanggar Budaya Rayantara ini. (*)

LEAVE A REPLY