Sistem Deteksi Dini Karhutla Mulai Diterapkan

0
67

JAKARTA | Mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 2018, KLHK menyusun terobosan baru berupa penerapan Teknologi Monitoring dan Deteksi Dini Karhutla.

“Sistem pendeteksi kebakaran hutan dan lahan ini memiliki kemampuan mendeteksi api dengan cepat dan jangkauan mencapai jarak 10 km, dengan cakupan area 8.000 Ha sehingga kejadian karhutla dapat diketahui dengan cepat, serta dapat segera diambil tindakan penanggulangan secara tepat.”, tegas Raffles.

KLHK akan memasang alat monitoring deteksi dini karhutla dengan sistem kamera visual dan sensor panas serta perangkat lunak pendukung Sistem Informasi Geografis (SIG) di lokasi-lokasi rawan karhutla. Alat ini berfungsi untuk memantau situasi dan kondisi suatu tempat yang ditangkap oleh kamera visual kemudian dikirimkan ke layar monitor yang sudah tersedia di suatu ruangan pemantau.

Dengan alat sensor panas (thermal) yang dipasang, maka suatu gejala perubahan panas/suhu akan terdeteksi, misalnya titik panas (hotspot) atau pun kejadian karhutla. Dengan didukung teknologi SIG, maka titik koordinat lokasi karhutla dapat diketahui sehingga penanganan dapat segera dilakukan.

Rencananya, alat pemantau ini akan dipasang pada provinsi provinsi rawan karhutla, yaitu di Provinsi Kalimantan Barat di Pontianak, Sintang, dan Ketapang; Provinsi Kalimantan Tengah di Palangkaraya, Pangkalan Bun, dan Muara Teweh; Provinsi Kalimantan Selatan di kawasan Adam, Provinsi Riau di Kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, Lubuk Kembang Bunga dan Baserah, serta Dumai; Provinsi Jambi di Simpang Berbak,  Provinsi Sumatera Selatan di Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Utara di Kawasan Cagar Alam Padang Lawas, serta Provinsi Jawa Timur di Taman Nasional Baluran.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, KLHK, Raffles B. Panjaitan mengungkapkan bahwa pencegahan masih menjadi prioritas dalam penanganan karhutla tahun 2018 ini. Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah terjadi karhutla di wilayah-wilayah rawan. Salah satunya adalah dengan pemasangan alat deteksi dini kejadian karhutla yang menggunakan teknologi kamera visual dan sensor panas ini. Di penghujung 2017 sudah dilakukan pengadaan peralatan tersebut dan sedianya akan dipasang di tahun 2018 pada wilayah-wilayah yang sudah diuji kelayakannya.

Sementara itu, Posko Pengendalian Kebakaran Hutan dan pukul 20.00 WIB (21/01/2018), berdasarkan pantauan satelit NOAA terpantau satu titik di Kalimantan Tengah dan berdasarkan satelit TERRA AQUA (NASA) tidak terpantau adanya hotspot.

Dengan demikian, selama 1 Januari –  21 Januari 2018 berdasarkan satelit NOAA terdapat 22 titik, setelah tahun sebelumnya sebanyak 81 titik, sehingga terdapat penurunan jumlah hotspot sebanyak 59 titik (72,84 %). Sedangkan total 21 titik ditunjukkan Satelit Terra/Aqua (NASA) Conf. Level ≥80%, setelah tahun 2017 lalu menunjukkan 84 titik, sehingga saat ini menurun sebanyak 63 titik (75,00%).[sa/rel]

LEAVE A REPLY