Ritual Anyorong Lopi di Tanah Bulukumba Berlangsung Sangat Meriah

0
30

suaraaceh.com–BULUKUMBA–Ritual Barasanji menyimbolkan Keragaman adat dan tradisi pada saat memperingati  Anyorong Lopi di Tanah Bulukumba.

Keragaman adat dan tradisi, serta khasanah budaya Kota Butta Panrita Lopi, Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selaran tertuang lewat rangkaian ritual Anyorong Lopi dan festival Phinisi 2018. Jumat (14/9)

Ritual pemotongan kambing dan barasanji diselenggarakan di kompleks pemukiman nelayan pesisir, Pelabuhan Pelelangan Ikan (PPI) Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba, Sulawesi-Selatan.

Barasanji serta  pemotongan kambing  itu merupakan ritual  tola bala , dalam dialek bahasa Bugis diistilahkan dengan sebutan ammosi dan pasili atau menebar doa keselamatan sebelum digelarnya upacara anyorong lopi.

Upacara anyorong lopi diawali dengan pelaksanaan opening ceremony lewat persembahan tarian adat Marise Resa dan pamanca ,serta dilanjutkan dengan kegiatan Phinisi Trip route Tanaberu-Pantai Tanjung Bira.

Sebelum upacara anyorong lopi dimulai, dua bentangan tali dan rantai dikaitkan pada bagian body Kapal Phinisi  kemudian ditarik beramai-ramai dengan melibatkan seratus orang warga masyarakat serta pengunjung di sekitar lokasi.

Sedangkan upacara anyorong lopi diawali oleh pelaksanaan ritual Ammoci dilakukan oleh pembuat dan pemilik kapal dengan mengikuti arahan serta petunjuk guru spiritual pilihan sang pemilik kapal.

Tokoh atau sosok guru spiritual kemudian akan memasukkan emas ke dalam mulutnya sembari melakukan rangkaian prosesi ammoci dengan cara melubangi bagian lunas kapal menggunakan bor.

Emas yang dimasukkan ke dalam mulut sang guru spiritual, secara otomatis akan diberikan pemilik kapal sebagai bentuk upah atau tanda ucapan terima kasih kepada sosok guru spiritual.

Sedangkan Jenis dan berat emas tergantung pada tingkat keikhlasan sang pemilik kapal.

Namun pada umumnya, berat emas yang diberikan rata-rata mencapai kisaran satu sampai lima gram.

Setelah melaksanakan seluruh rangkaian ritual wajib, prosesi anyorong lopi pun dimulai sembari mendengarkan aba-aba dari pemandu yang diberikan amanah dan kepercayaan untuk memimpin ritual “Appatara Taju” berisikan syair lagu, nyanyian dan cerita lucu warisan pendahulu atau nenek moyang yang diyakini mampu menimbulkan gelak tawa dan menghapus rasa lelah warga saat sedang mendorong badan perahu turun ke air.

Ritual “Apatara Taju” juga merupakan bentuk aba-aba disertai ketukan untuk menandai waktu mulai, dan jedah aktivitas anyorong lopi dengan sendirinya akan menimbulkan keselarasan hentakan gerak tali saat berlangsungnya prosesi anyorong lopi.

Disaat bersamaan, sang pemandu akan memulai tabuhan gong disertai aba-aba yang diistilahkan dengan sebutan lari lambate yang bermakna dorong kuat.

Lari lambate sendiri terdiri dari suku kata yakni tra, ta, ju dan kata samakan tiang yang berarti pegang tali dan kuatkan dorongan.

Sedangkan prosesi anyorong lopi yang dilaksanakan di kawasan galangan kapal Batilang, Desa Tanaberu, Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba yang di buaka pada hari Kamis (13/9) oleh Wakil Gubernur Sulawesi Selaran(SA/FS)

 

 

LEAVE A REPLY