KPH Mampu Kendalikan Karhutla

0
7

Jakarta | Sampai dengan Oktober 2017, total luas kebakaranhutandanlahan (karhutla) di Indonesia menurun sebesar 65,68% dibandingkan dengan tahun 2016. 16,99% diantaranyaterjadidi Hutan Produksi yang dikelola oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH). Hal inidikemukakanDirektur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Raffles B.  PanjaitanpadaacaraEvaluasi Kegiatan Pengendalian KarhutlaTahun 2017, dan Rencana Kegiatan PengendalianKarhutlaTahun 2018 pada Tingkat KPH(KPHP, KPHL, danKPH Perum Perhutani), di Bogor tanggal 4 – 6 Desember 2017.

“Secara keseluruhan capaian kegiatan dalkarhutla tahun 2017 cukup memuaskan. Keberhasilan penanganan karhutla tahun 2017, dikarenakan adanya kebijakan dan paradigma baru dalam pengendalian karhutla, pemerintah mengedepankan upaya pencegahan dengan memobilisasi peran stakeholder di tingkat tapak, seperti penguatan peran KPH”, ungkapRaffles.

Pembentukan Brigdalkarhutla sebanyak 50 regu di KPH sejak tahun 2015 telah meningkatkan jangkauan dalkarhutla hingga tingkat tapak, sehingga luas karhutla dapat menurun drastis. Raffles jugamenyampaikanapresiasiatasperan KPH dalampengendalian karhutla 2017. “Peran KPH sangat signifikan dalam membantu pencapaian ini. Kami akan terus mendukung peran KPH melalui penguatan kelembagaan dan sarpras karhutla,” tegas Raffles.

Tahun 2017, KPH-KPH yang sudah dibentuk telah melaksanakan apa yang diamanahkan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.32 Tahun 2016 tentang Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, dimana KPH baik KPHP, KPHL, dan KPH Perum Perhutani dimandatkan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan pokok pengendalian kebakaran hutan dan lahan, mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM), organisasi serta sarana prasarana di bidang dalkarhutla.

Acarainijuga bertujuanuntuk mengetahui kesiapan di tingkat pengelola dalam menghadapi tantangankejadian karhutla tahun 2018,danuntukmendapatkandata dan informasi sebagai bahan untuk mendukung kebijakan dan strategi dalam penanganan karhutla tahun 2018.

“Dari hasil evaluasi yang dilaksanakan selama tiga hari ini, KPH-KPH yang telah dibentuk sangat membutuhkan penguatan sarana prasarana dan sumber daya manusia untuk mendukung pelaksanaan pengendalian kebakaran hutan dan lahan”, Raffles menyimpulkan.

Sementara itu, pantauan hotspot pada Posko Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan pukul 21.00 WIB (5/12/2017), tidak terpantau hotspot pada satelit NOAA, sedangkan pantauan satelit TERRA AQUA (NASA) terpantau satu hotspot di Provinsi Sumatera Selatan.

Dengan demikian, selama 1 Januari – 5 Desember 2017 berdasarkan satelit NOAA terdapat 2.556 titik, setelah tahun sebelumnya sebanyak 3.792 titik, sehingga terdapat penurunan jumlah hotspot sebanyak 1.236 titik (32,59 %). Sedangkan total 2.356 titik ditunjukkan Satelit Terra/Aqua (NASA) Conf. Level ≥80%, setelah tahun 2016 lalu menunjukkan 3.813 titik, sehingga saat ini menurun sebanyak 1.457 titik (38,15 %). [sa/rel]

LEAVE A REPLY