KLHK Tingkatkan Kapasitas Petani Kopi

0
145

Jakarta | Sebagai salah satu aksinyata percepatan program Perhutanan Sosial, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memberikan pelatihan kewirausahaan bagi para petani kopi, yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) di Provinsi Jawa Timur. Kegiatan yang dilaksanakan di Jember selama dua hari tersebut (28-29 Oktober 2017), didukung oleh Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI), dan diikuti oleh 50 orang petani.

Dalam kegiatan ini, para petani diajarkan bagaimana cara memilih dan menanam bibit kopi, hingga pengelolaan pasca panen.

“Para petani muda yang ingin membuka kedai kopi di desa,  diajari teknik roasting, metode cuping dan uji mutu kopi, manual brewing, hingga membuat kopi enak dengan standar barista,” tutur Direktur Bina Usaha Perhutanan Sosial dan Hutan dan Hutan Adat, Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) KLHK, Hargyono Soemadi.

Hargyono menjelaskan bahwa, tujuan pelatihan ini agar petani memahami pengelolaan kopi dari hulu sampai hilir.

“Untuk meningkatkan wawasan dan menyadarkan mereka bahwa menanam kopi bagus untuk lingkungan, serta meningkatkan jaringan mereka mengenai informasi cara meningkatkan kualitas dan kuantitas kopi,” ujarnya.

Selain itu, para petani juga diperkenalkan sistemagroforestry kopi, yaitu pengoptimalan lahan hutan dengan menanam kopi diantara pohon hutan untuk kelestarian hutan.

“Tagline kita coffee for earth, yakni kopi untuk bumi, dimana falsafahnya,  kopi sangat bersahabat dalam pelestarian hutan, karena akar kopi yang tembus ke tanah hingga 3 meter, dapat menyimpan cadangan air, dan penyerapan emisinya tinggi,” kata Hargyono.

Sementara itu, Ketua SCAI,  A. Syafrudin menuturkan, terdapat 10 ribu petani kopi yang secara sporadis mengelola lahan milik Perhutani seluas 13 ribu Ha, di wilayah Jember dan Banyuwangi.

“Dalam kegiatan ini, selain diajarkan bagaimana melestarikan hutan, para petani juga diberi gambaran tentang kualitas kopi dan bagaimana mengelolanya. Mereka diberitahu bagaimana  menghasilkan kopi dengan kualitas terbaik,” jelasnya.

Saat ini, menurut Syafrudin, para petani masih kesulitan dalam mendapatkan informasi tentang tata kelola kopi karena tim penyuluh belum sampai ke tingkat tapak.

“Dengan pelatihan ini mereka dapat meningkatkan kualitas kopi, sehingga harga kopi  pun meningkat. Kalau sekarang harga kopi mereka ditaksir dengan harga di bawah  Rp 20 ribu, maka ketika kualitas meningkat harga bisa naik di atas Rp 30 ribu per kg,” tambah Syafrudin.

Membandingkan dengan produksi kopi di Negara Brasil yang bias mencapai 3 kali lipat, dengan luas lahan yang sama di Indonesia, Syarifudin optimis, Indonesia tidak akan kalah dengan Brasil, apabila pengelolaan budidaya kopi dilakukan secara serius.

“Kedepan kita ingin kualitas kopi meningkat, baik untuk konsumsi sendiri maupun tujuan ekspor, karena kita ingin setiap petani bisa hidup lebih baik,”harapnya. [sa/rel]

LEAVE A REPLY