Jaksa Cantik, Tak Mudah Menyerah dan Bersuara Merdu 

0
520

Manurat.com | Ada jaksa cantik di Kejaksaan Negeri (Kejari) Siantar. Namanya Ana Lusiana. Ditemui Selasa (20/9), perempuan yang sehari-hari berkutat dengan urusan hukum ini, enak saja cerita soal pekerjaan dan jalan hidupnya.

Meski kerap berkutat soal urusan hukum, Ana terlihat masih muda dan cantik. Rupanya selain piawai soal hukum, juga punya bakat lain yakni pintar bernyanyi. Suara emas yang dia miliki akan keluar setiap kali ada acara digelar di kantornya.

Ana merupakan lulusan Universitas Dipenogoro (Undip) Semarang tahun 2003. Begitu lulus, dia awalnya melamar dan diterima bekerja di kantor notaris, sebelum kemudian mencari pengalaman di kantor pengacara hingga ikut pendidikan advokat.

Dia ikut ujian advokat dan lulus hingga memiliki kartu Peradi gelombang pertama yang diselenggarakan Peradi dan Universitas Indonesia (UI).

Tak puas sampai di situ, Ana kemudian mencari pengalaman lagi di kantor kurator dan mengikuti pendidikan kurator. Tahun 2006, Ana lalu mencoba tes masuk kejaksaan, sayangnya gagal. Ana tak patah semangat dan tahun 2007 dicobanya lagi dan lagi-lagi gagal.

Perempuan ini memang tak mudah menyerah karena cita-cita untuk menjadi seorang jaksa begitu kuat sehingga  terus berdoa agar Tuhan mengabulkan impiannya.

Di tahun 2008 dia mencoba lagi dan akhirnya Ana lulus tes kejaksaaan. Masuk di lembaga kejaksaan tahun 2009, Ana sebagai CPNS di Kalimantan Barat tepatnya di Singkawang.

Cita-cita tercapai, Ana malah bersedih. Karena sebagai anak perempuan paling bungsu terpaksa harus meninggalkan orangtua yang sedang sakit demi pekerjaan barunya sebagai jaksa.

Sampai di Singkawang, Ana merasa berada di dunia berbeda karena melihat kiri dan kanan sawah semua. Ana yang kelahiran Jakarta belum pernah melihat sawah-sawah, sedikit bergidik dengan kondisi sepi seperti itu.

Selanjutnya di tahun 2011, Ana mengucap syukur kepada Tuhan karena lulus Diklat jaksa dan diangkat sebagai jaksa di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

Di situ Ana merasa perekonomian mati. Karena kota-nya hanya sebesar simpang 4 Jalan Gereja Kota Siantar saat ini dan mayoritas masyarakat suku Dayak. Ana juga mengatakan, perkembangan pembangunan di Bengkayang sangat lambat. Pengadilan dan kejaksaan jaraknya sangat jauh, bahkan jalannya pun rusak kiri kanan dan hutan semua.

Sebagi jaksa dalam menuntut terdakwa, ada hal yang tak bisa dilupakan Ana yakni saat menyidangkan kasus pencurian yang pelakunya anak di bawah umur. Di situ Ana merasa kasihan, lalu kemudian memberikan kepada si anak itu alat-alat tulis buku dan pulpen melalui pengawal tahanan.

Ana berharap, anak itu tidak terganggu jiwanya. Walaupun anak itu berada di dalam penjara, tidak melihatnya sebagai penjahat. Dia mau si anak belajar dan bersekolah lagi untuk mencapai cita-citanya kelak.

Dua tahun sebagai jaksa di Kalimantan Barat, memasuki tahun 2013, Ana dipindahkan ke Kejaksaan Negeri Siantar.

Di kota ini, Ana senang sekali karena memasuki kota yang lumayan maju dan hingga saat ini dia masih bertugas di lembaga yang dikepalai M Masri ini.

Dalam hidupnya, perempuan kelahiran 19 Juli 1981 ini mempunyai motto hidup : “Kerjakanlah yang Kau Cintai dan Cintailah Pekerjaanmu.” (m-01).

LEAVE A REPLY