Gaek yang Move On

0
99

Penulis : Redaksi

Seorang wartawan gaek, mengajak untuk meliput Sinode Godang HKBP di Tapanuli Utara. Rencananya meliput tak satu hari, tapi hingga tiga empat hari.

Aku yang masih belia dibanding beliau tentu saja senang dan langsung mau. Selain ini adalah pengalaman spiritualistik jurnalistik, juga edukasi tersendiri betapa kami yang masih muda tak boleh berhenti meliput dan menulis, sejauh mana pun lokasi liputan.

Soal biaya, transportasi dan akomodasi? Dia bahkan siapkan semua.  Bahkan, sepekan sebelum keberangkatan, dia selalu konfirmasi kesediaanku berangkat. Tentu saja, tidak ada halangan dan alasan apa pun mengatakan batal, kecuali maut ada di depan.

Usia wartawan gaek ini, pantasnya menimang cucu atau duduk di warung kopi atau kalau pria Batak, fokus urusi adat atau pesta adat. Tapi, itu semua terbantahkan. Bahwa dia tidak pernah henti memutar masinis otaknya, dan tak pernah henti memobilisasi tubuhnya yang perlahan mulai melamban.

Ini bak sebuah tamparan terhadap kaum muda, terutama para wartawan dan jurnalis yang masih jauh di bawahnya, yang malah sudah pensiun muda menulis saat justru memegang posisi redaktur atau pemred.

Pesan dari ajakan meliput itu, empat jam perjalanan, empat hari jauh dari keluarga, empat hari berkutat dengan liputan di arena super sibuk hajatan akbar sebuah gereja terbesar di negeri ini, seakan menyadarkan betapa meliput dan menulis adalah urusan sepanjang nafas masih di badan.

Betapa nikmatnya ruang itu, meliput bersama wartawan gaek, yang sudah melahirkan dan mendidik puluhan wartawan di Sumatera Utara selama dia hidup dan berkarya di sebuah perusahaan surat kabar ternama.

Kelebat menyeruak, imaji berlari. Betapa tubuhnya yang tua tapi tak mau henti bergerak itu, akan ditelan dinamisasi helatan sinode yang akan diikuti ribuan peserta dari seluruh Indonesia bahkan sejumlah negara, termasuk pendeta, utusan berbagau lembaga dan gereja.

Di situ, dia akan menyerap, melakukan aktivitas jurnalistik, yang penuh dengan tekanan, berbicara, wawancara dengan para kandidat dan tokoh, lalu menuliskannya sebelum kemudian dia setorkan ke redaksinya. Itu pekerjaan maha berat dan sarat vitalitas. Tubuh dan pikiran harus bergerak harmonis.

Tapi itu dia akan jemput. Dan akankah orang muda mengatakan tidak kepada dia yang gaek? Oh tidak. Akan ada harmoni, imaji, dan sinergi. Maka, tidak ada alasan dan halangan sebesar apa pun menunda untuk pergi bersama wartawan gaek ini. Kemon. (###)

LEAVE A REPLY