Dekat Jauh Jokowi

0
217

Oleh : Tigor M

November 2013, saat Jokowi masih Gubernur DKI Jakarta datang ke Toba, persisnya ke kampus Del Laguboti bersama Luhut Pandjaitan. Di sana Jokowi menjadi narasumber atas sebuah seminar yang digelar kampus milik Luhut itu.

Sambutannya saat itu masih sebatas sebagai seorang sosok pemimpin provinsi, namun sudah menjadi media darling, dimana segala aktivitasnya menjadi buruan media. Begitupun sosoknya yang ngepop kala itu sudah juga menular ke daerah, termasuk ke Toba. Tak heran saat Jokowi datang, belasan orang yang datang ke acara berebut untuk bisa foto dan sekadar salaman.

Sebagai wartawan yang kebetulan dapat penugasan dari kantor media, untuk wawancara Jokowi terkait proyek bendungan raksasa di Jakarta, untuk bisa menembus sosok Jokowi tak terlalu sulit.

Begitu Jokowi usai berbicara di hadapan ratusan siswa Del Laguboti, saya kemudian mencegatnya di pintu keluar acara, memohon waktu untuk wawancara.

Dengan gaya khas, senyum khas dan pakaian putih khasnya Jokowi oke dan minta dilakukan di depan, di samping mobil yang akan membawa dia ke acara berikutnya yang sudah disiapkan sebelumnya sebelum bertolak ke Jakarta.

Setelah tak lelah melayani foto dan salaman warga yang hadir dalam acara itu, terutama kalangan perempuan dan siswa di sana, Jokowi akhirnya berhenti persis sekitar 5 meter dari mobilnya.

Dia diapit dua Bupati di kawasan Danau Toba, yakni Bupati Humbahas Maddin Sihombing dan Bupati Samosir Mangindar Simbolon. Sedangkan Luhut saat itu entah dimana, meski usai Jokowi diwawancara dia sempat ditanya ini itu juga.

Saat itu, tak banyak wartawan yang meliput kedatangan Jokowi. Tak ada wartawan media nasional dari Jakarta atau Medan. Tiga kali Jokowi ditanya, plus pertanyaan salah seorang teman wartawan lain, Jokowi memberi keterangan tak lebih dari 15 menit.

Pertarungan saat itu untuk mendapatkan suara dan keterangan Jokowi adalah dengan para ibu yang mengerubutinya, berusaha menyalami tangan dan setengah berteriak menyebut namanya sekaligus minta berfoto sama. Dia sangat melayani.

Tak heran di sela dia menjelaskan apa yang ditanya, Jokowi sesekali menjulurkan tangannya untuk menyambut salam tangan orang yang mengerubutinya di samping dan belakang.

Tak ketinggalan Maddin dan Mangindar saat itu seperti ikut larut dalam histeria warga atas kedatangan pria kurus itu. Keduanya senyum-senyum seakan ingin sodorkan wajah buat dijepret kamera.

Barangkali pasti, untuk bisa mendapatkan momen itu kembali saat ini, saat Jokowi yang sudah presiden, bisa dibilang hanya mimpi di siang bolong. Kedatangan Jokowi yang kedua kali sejak jadi presiden ke kawasan Danau Toba, bahkan sudah menebar jarak.

Meski Jokowi selalu berusaha dekat dengan rakyat, saat dia misalnya berjalan di pasar saat melintas di Tobasa, hendak ke Parapat, tapi aturan ketat dengan penjagaan Paspampres tak lagi bisa memberi ruang leluasa buat menjulurkan tangan sekadar menyalam pria Solo itu.

Teringat dulu Oktober 2014 saat Jokowi baru menjabat sebagai presiden, wilayah pertama yang dia injak di Sumatera Utara adalah Kabanjahe, Kabupaten Karo. Saat itu 2014, terjadi erupsi Gunung Sinabung dan mengakibatkan warga di lereng gunung aktif itu mengungsi di berbagai daerah zona aman termasuk di Kabanjahe yang paling banyak pengungsi.

Jokowi datang dan untuk pertama kali dia keluar dari Istananya di Jakarta terbang memakai pesawat kepresidenan buah tangan dari presiden sebelumnya SBY. Jokowi mendarat di Lanud Soewondo dan menyusur rute darat Meda-Berastagi hingga ke Kabanjahe

Menarik kala itu, saat mendapat tugas dari kantor Kompas.com melakukan liputan atas kunjungan Jokowi ke Kabanjahe untuk melihat langsung para pengungsi Gunung Sinabung, bahwa Kabanjahe sehari sebelum bahkan hari H saat Jokowi akan tiba di kota berhawa dingin itu, tak ada persiapan berlebihan oleh aparat keamanan.

Pagi hari, jalanan di inti kota Kabanjahe tak nampak petugas kepolisian atau militer. Tak nampak juga ada persiapan berupa pemulusan jalan, pengecatan sarana publik, pendirian umbul-umbul, pemasangan spanduk atau hal-hal lain yang sifatnya sibuk-sibuk bersih sebagaimana lazimnya menyambut seorang pemimpin negara atau pemerintahan.

Memang, Jokowi saat itu dijadwalkan hanya akan melihat para pengungsi yang berada di beberapa titik lokasi di Kabanjahe. Pusat kegiatan, titik dimana Jokowi akan datang pertama kali adalah di rumah dinas Bupati Karo.

Di sini persiapan jauh hari sudah dilakukan, dengan mengemas pelataran halaman rumah dinas Bupati Karo itu seapik mungkin. Tenda besar didirikan, dimana nantinya di sini Jokowi akan berdialog, disiapkan semacam ruang pertemuan dengan para pejabat daerah, sipil dan militer.

Sekitar pukul 1 siang saat itu dia tiba dengan mobil RI-1, saat semua pejabat daerah sudah menunggu Jokowi sejak pagi, dengan duduk di tempat masing-masing, Jokowi didampingi Iriana Jokowi langsung masuk ke rumah dinas bupati.

Di luar para pejabat daerah, Pemprovsu dan Pemkab, Pemko, plus para pejabat polisi dan militer menunggu, siap siaga untuk berdialog, setidaknya mendengar pidato atau arahan presiden terkait penanganan para pengungsi erupsi Gunung Sinabung.

Tak kurang belasan jurnalis, baik yang datang dari Jakarta, Medan dan daerah lain di Sumatera Utara juga stand by di bawah tenda besar dimana Jokowi nanti akan berpidato atau memberikan arahan. Sejumlah jurnalis foto bahkan sudah ancang-ancang mengambil posisi yang ideal untuk menjepret sang presiden.

Tunggu punya tunggu, hingga setengah jama sejak Jokowi injak kaki di rumah dinas bupati, sosoknya tak nongol. Rupanya Jojowi minta langsung ke lokasi pengungsi dan tak pidato. Praktis panitia kelabakan, sebab jadwal yang sudah disusun pun berantakan. Bahkan titik lokasi pengungsi yang sudah ditentukan panitia, dilanggar Jokowi. Sang Presiden didampingi istri dan Gubernur Sumut saat itu Pujo Nugroho bergerak sesuai keinginannya, bukan sesuai jadwal.

Di lokasi pengungsi, Jokowi leluasa bergerak. Meski tampak beberapa petugas Paspampres menempelnya dalam jarak 1 hingga 2 meter, tetapi warga yang berdesakan dan berjubel enak saja menjulur tangannya untuk menyalam presiden ke tujuh Indonesia itu. Terekam sekilas saat itu, betapa Iriana Jokowi seakan terdesak di bahu suaminya, melihat banyaknya warga yang berusaha dekat dan menyalami mantan Walikota Solo itu.

Barangkali pasti, kedatangan Jokowi ke Danau Toba, sejak 20 Agustus 2016 hingga 21 Agustus 2016, tidak akan semudah itu lagi dijangkau wartawan dan rakyat lokal. Itu adalah sebuah kemewahan, mahal dan ekslusif. Sesuatu yang murah dan biasa bagi pejabat dan wartawan nasional yang selalu nempel.

Kemewahan yang entah kapan, bisa juga dimiliki rakyat lokal dan wartawan lokal, dimana harusnya mereka merasakan langsung, mendengarkan langsung, bertanya langsung dan menerima jawab langsung atas apa yang mereka lihat dan rasakan langsung. (###)

LEAVE A REPLY