Dalam 10 Menit Bendera Enggan Naik

0
223

Oleh : Tigor M

Bulu kuduk mendadak berdiri mana kala satu pesan singkat dari seorang teman masuk ke telepon genggam, bahwa ada gagal naik sementara bendera Merah Putih saat pelaksanaan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI ke-71 di Lapangan Haji Adam Malik, Rabu (17/8) siang.

Gagal naik? Pikiran lantas berkecamuk. Mengapa hal itu bisa terjadi. Sebab tak kurang tiga bulan, putra putri terbaik Siantar sudah mendapat latihan dan gemblengan dari para pelatih yang sudah bisa dipastikan orang-orang sangat berpengalaman soal tata cara penaikan dan pengibaran bendera.

Saban hari sebelum 17 Agustus, setiap kali melintas dari pinggiran Lapangan Haji Adam Malik, jamak melihat sekumpulan anak muda berlatih berbaris di lokasi lapangan.

Mereka tampak tekun, rapi dan disiplin melakukan aktivitas latihan. Tugas mulia dan berat menanti mereka, mengibarkan Sang Saka Merah Putih di jantung kota, jantung seluruh rakyat warga Siantar.

Kita percaya, latihan itu dilakukan dengan penuh perhitungan, dan penuh kejelian. Konon lokasi latihan persis di lapangan, dimana mereka nantinya bertugas mengibarkan bendera di hati seluruh warga, di hadapan para pejabat daerah, di depan para pemimpin segala pemimpin di kota ini.

Apalagi pengibaran itu dilakukan di sebuah lapangan yang mengadopsi nama seorang tokoh bangsa, tokoh nasional yang mendunia, asal kota ini, Haji Adam Malik Batubara. Jadi, tidak mungkin mereka main-main dan memberi ruang kompromi secuil pun buat sebuah kesalahan semini apa pun.

Tapi memang, menjalankan tugas maha berat dan maha mulia itu, tidak bisa diserahkan kepada orang yang remeh dan tak berkualifikasi. Harus ada pertimbangan ketat dan selektif untuk menjatuhkan pilihan kepada personel dalam mengembang tugas besar itu.

Betul itu cuma sebuah seremonial belaka. Tetapi urusan menaikkan dan mengibarkan bendera di tengah kota, disaksikan seluruh warga, bukan perkara simbol sahaja. Dia mengandung makna menukik dan mendalam, amat menenun kedalaman makna filosofis, mengibarkan sebuah bendera di tengah kota adalah mengibarkan jiwa nasionalisme dan jiwa merdeka di hati seluruh warga kota. Itu fundamental.

Bahwa pengibaran Sang Saka Merah Putih di tengah kota, di jantung warga kota, sejak pagi hingga kemudian dia diturunkan sore hari bermakna betapa dalam sehari ini kita dalam sikap Merdeka, dimana bendera yang berkibar itu menular, mengular, mengalir dan bergulir ke seluruh pelosok dan jiwa warga kota ini.

Itu sebabnya, proses pengibaran bendera yang tidak benar, sebetulnya bermakna sebuah keteledoran yang sulit difahami dalam mengibarkan teriakan Merdeka di bumi Sapangambei Manoktok Hitei ini. Mengingat sakralistik perayaan tahunan ini dan menggarisbawahi betapa dalamnya momentum Merdeka bagi seluruh rakyat dan warga kota.

Ah, semoga kesalahan sepersekian menit yang disajikan adik-adik petugas Paskibra di Lapangan Haji Adam Malik, pada 17 Agustus 2016 menjadi titik awal bagi warga kota ini untuk introspeksi betapa selama ini kita abai menghargai Lapangan Haji Adam Malik, yang kerap kita pakai sebagai ajang pelacuran politik dan kebijakan, sebuah wajah kota yang lama dipegunjingkan dalam lema-lema miring dan tak produktif.

Atau detik-detik yang sebetulnya amat memalukan itu, bisa menjadi titik awal sebaga koreksi atas perilaku para elit kita, di pemerintahan, DPRD, parpol, tokoh masyarakat, tokoh agama, segala tokoh dan kita yang tak menghargai nilai dan warisan perjuangan para pahlawan dan pejuang-pejuang yang kita abaikan, melalui sikap dan perilaku yang tak amanah dan perilaku yang koruptif, arogan, anti kerakyatan, hedonisme, materialistik, egoistik, sipanggaron, merasa paling hebat, merasa paling jago dan sebagainya-sebagainya.

Begitupun, bendera sudah dikibarkan, di hati rakyat kota ini oleh para anak muda yang tak berdosa itu, mereka dengan amat sangat luar biasa menggerek bendera yang berlumur dosa para pemimpinnya, mereka berjuang hingga tetesan air mata terakhir tumpah di tengah lapangan, membuktikan mereka tak akan menyerah untuk menaikkan bendera di tengah degradasi sikap dan perilaku elit pemimpinnya.

Sesungguhnya para anak muda yang nyaris gagal menggerek bendera itu, sedang mengingatkan kita dan para pemimpin kota ini, ada yang salah dan rusak di sini, di tengah kota ini, di jantung kota ini, dan mereka harus berjuang sekuat tenaga menyatakan itu, melalui gagal 10 menit sebelum kemudian bendera Merdeka berkibar ke seluruh pelosok kota. Begitupun, Merdeka…!!!

LEAVE A REPLY